PROGRAM PASAR AMAN DARI BAHAN BERBAHAYA

Pasar aman dari bahan berbahaya adalah pasar yang mempunyai komitmen dan dukungan penuh dari komunitas pasar (pedagang, pemasok, masyarakat) dan pemerintah setempat untuk mengendalikan peredaran bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan dan pangan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

Karena dari hasil pengawasan terhadap sampel pangan yang beredar di pasaran masih ditemukan pangan yang mengandung bahan berbahaya seperti : Boraks/pijer/bleng, formalin, Rhodamin B, Kuning metanil.

Tujuannya adalah terwujudnya pasar yang bersih, nyaman, sehat, dan aman dari bahan berbahaya melalui pemberdayaan komunitas pasar agar mampu melaksanakan pengawasan mandiri terhadap bahan berbahaya dan pangan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

Pasar Aman dari Bahan Berbahaya dimulai pada tahun 2013, dan rencananya terus berjalan sampai dengan tahun 2019.

Sampai tahun 2015 sudah 77 pasar percontohan di 31 provinsi dan pada tahun 2016 direncanakan akan meningkat menjadi 108 pasar di seluruh Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah, hingga pada tahun 2019 diharapkan ada 201 pasar percontohan pasar aman dari bahan berbahaya. Selain pasar tersenut, pada tahun 2017 direncanakan pula akan diintervensi 10 pasar di daerah wisata yang meliputi:

  • Mandalika, Nusa Tenggara Barat
  • Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur
  • Pulau Morotai, Maluku
  • Tanjung Kelayang, Bangka Belitung
  • Danau Toba, Sumatera Utara
  • Wakatobi, Sulawesi Tenggara
  • Gunung Bromo, Jawa Timur
  • Candi Borobudur, Jawa Tengah
  • Pantai Tanjung Lesung, Banten
  • Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Bahan berbahaya adalah zat, bahan kimia, dan biologi yang bersifat racun, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung.

Pada dasarnya ada banyak bahan berbahaya yang tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan, namun dari hasil pengawasan, ada 4 bahan berbahaya yang sering ditemukan disalahgunakan dalam makanan yaitu Boraks (sering disebut pijer/bleng), formalin. Rhodamin B, dan Kuning metanil.

BPOM melalui Balai POM pada masing – masing provinsi, Pemda setempat, penanggungjawab program di kabupaten/kota (fasilitator), dan terutama pengawas pasar.

Ada 6 strategi utama antara lain :

  1. Pelatihan untuk :
    • Petugas Balai Besar / Balai POM
    • Pengelola / penanggung jawab pasar
    • Fasilitator / penanggung jawab program di daerah
  2. Pengawasan: Identifikasi Pasar dan Pendataan Pedagang, Pengambilan Contoh dan Pengujian, Monitoring dan Evaluasi, Tindak Lanjut.
  3. Advokasi: Menggalang dukungan/komitmen pemerintah daerah dan stakeholder lainnya, Kampanye, Lobi.
  4. Monitoring dan Evaluasi Program: Pemantauan keberhasilan program dan kegiatan
  5. Replikasi Pasar: Penambahan pasar-pasar intervensi oleh Pemda, swasta, stakeholder
  6. Alih kelola Pasar: Memastikan keberlanjutan pasar yang telah diintervensi (setelah 2019).

  • Adanya antusiasme / dukungan dari pemda dan pimpinan pasar.
  • Pasar memiliki struktur organisasi.
  • Ditemukan adanya potensi peredaran bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan.
  • Ditemukan peredaran pangan yang mengandung bahan berbahaya berdasarkan hasil sampling dan uji Balai Besar / Balai POM.

  • Contoh pangan yang diduga mengandung formalin: tahu, mie basah, ayam potong, ikan segar, ikan asin.
    Ciri – cirinya : Tekstur makanan lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih tahan lama, ada aroma yang cukup menyengat.
  • Contoh pangan yang diduga mengandung borak/bleng/pijer : mie basah, bakso, lontong, kerupuk gendar.
    Ciri –cirinya : tekstur makanan lebih kenyal, untuk mie basah : lebih mengkilap, tidak mudah putus, tidak lengket, kerupuk : lebih renyah.
  • Contoh pangan yang diduga mengandung rhodamin B : kerupuk merah, terasi, sirup dan arumanis berwarna merah.
    Ciri – ciri nya : Warna merah mencolok, rasa pahit, jika dipegang warna merah akan menempel di kulit.
  • Contoh pangan yang diduga mengandung kuning metanil : kerupuk berwarna kuning, mie basah, tahu kuning.
    Ciri – cirinya : warna kuning mencolok, rasa pahit, jika dipegang warna kuning akan menempel di kulit.

  • Boraks dapat menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal
  • Formalin dapat menyebabkan mulut, tenggorokkan dan perut terasa terbakar ( jangka pendek), kerusakan jantung, hati, otak, sistem saraf pusat.
  • Kuning metanil dan rhodamin B jika terakumulasi dapat menyebabkan kanker.


Berdasarkan hasil evaluasi selama tiga tahun (2013-2015), dapat terlihat penurunan trend penyalahgunaan bahan berbahaya di pangan di pasar yang diintervensi yaitu dari tahun 2013 sebanyak 16% menjadi 10% pada akhir tahun 2014 dan pada tahun 2015 mengalami penurunan kembali menjadi 7,45%.

Berdasarkan hasil pengujian, masih didapatkan pangan yang mengandung BB, hal ini menunjukkan bahwa program pasar aman masih harus dikawal dengan baik dan kontinu, serta kemandirian komunitas pasar masih harus dibina.

Hubungi Kami - 1500533  Halo BPOM